Puisi AI dan Ekspresi Manusia

 Sejarah tentang AI dan Puisi Modern


1. AI sebagai Pendukung Kreativitas Puisi Modern

Sejarah sastra membuktikan bahwa setiap era selalu menggunakan teknologi sebagai medium baru untuk memperluas imajinasi: mulai dari pena bulu abad pertengahan, mesin cetak Gutenberg (Eisenstein, The Printing Press as an Agent of Change, 1979), hingga internet yang melahirkan cyber-poetry pada 1990-an (Kendall, The Language of New Media Poetry, 2001).

Artificial Intelligence (AI) adalah kelanjutan dari tradisi ini: bukan sebagai pengganti penyair, melainkan sebagai instrumen eksperimental yang memperkaya metafora, mempercepat improvisasi, dan membuka horizon intertekstualitas (McKinnon, AI and Creative Writing, 2022). Dengan demikian, AI layak didukung sebagai wahana eksplorasi modern dalam ranah puisi, sebagaimana mesin cetak pernah dianggap “ancaman” namun akhirnya menjadi penyelamat literasi.

2. Penolakan terhadap Percampuran Total antara Puisi Manusia dan Prompt AI

Namun, justru karena nilai puisi bersumber dari pengalaman eksistensial manusia, perlu ada batas epistemologis antara karya asli manusia dan hasil generatif AI. Roland Barthes menekankan “penulis mati, namun teks hidup” (La mort de l’auteur, 1967), tetapi dalam konteks AI, teks hidup tanpa “pengalaman eksistensial” dapat menimbulkan krisis otentisitas.

Apabila percampuran antara puisi manusia dan AI dibiarkan tanpa pembeda, maka medan makna akan keruh: pembaca kehilangan orientasi tentang suara sejati penyair. Karenanya, pernyataan ini menolak penyamaran hasil AI sebagai puisi original. Keduanya harus diberi ruang ontologis berbeda — puisi manusia sebagai ekspresi batin, puisi AI sebagai eksperimen teknologis.

3. Menjaga Kesucian Puisi sebagai Ekspresi, Bukan Alat Politik

Sejak zaman Yunani Kuno, puisi berfungsi sebagai katarsis dan perenungan (Aristoteles, Poetica, 335 SM). Dalam tradisi Melayu dan Nusantara, puisi dan syair hadir sebagai medium nilai, doa, dan identitas (Braginsky, The Heritage of Traditional Malay Literature, 2004). Maka, menjadikan puisi sekadar alat propaganda politik, iklan komersial, atau manipulasi sosial adalah bentuk profanasi terhadap hakikatnya.

Puisi harus dijaga sebagai medan bebas: suara lirih jiwa, bukan corong kekuasaan. Kesuciannya terletak pada kejujuran emosional, bukan kepentingan pragmatis. Dengan demikian, baik puisi manusia maupun AI harus diposisikan sebagai ekspresi estetik yang tidak tunduk pada agenda politik.

📌 Kesimpulan:

Sejarah membuktikan bahwa teknologi selalu hadir dalam dunia puisi, namun otentisitas dan kesucian tetap harus dijaga. AI boleh menjadi sahabat eksplorasi, tapi bukan pengganti pengalaman batin manusia. Dan pada akhirnya, puisi akan selalu berdiri sebagai suara jiwa — bukan sekadar mesin, bukan sekadar politik.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH PANDUAN BAGI ANGGOTA KUFLET BANGKO

STILISTIKA SEBAGAI ILMU

Tentang kami